Di Lumbung Padi Lombok Tengah
Lombok Tengah – Matahari Kamis sore, 11 Juni 2026, perlahan bergerak ke arah barat ketika saya menyelesaikan kegiatan memberikan materi di salah satu pertemuan yang berlangsung di Hotel Raja, Kuta, Lombok Tengah. Tanpa berlama-lama, saya langsung memacu kendaraan menuju Desa Darek, Kecamatan Praya Barat Daya, Kabupaten Lombok Tengah.
Sore itu, saya telah berjanji untuk bertemu dengan tiga orang petani di desa tersebut. Salah satunya adalah Bapak Zakir, seorang petani yang telah lama berkecimpung dalam usaha pertanian di Desa Darek.
Setelah menempuh perjalanan sekitar satu jam, saya akhirnya tiba di Desa Darek. Hamparan sawah yang luas menyambut kedatangan kami. Desa yang dikenal sebagai salah satu sentra produksi padi di Lombok Tengah ini masih mempertahankan identitasnya sebagai wilayah agraris yang menjadi tumpuan ketahanan pangan masyarakat setempat.
Bapak Zakir menyambut kedatangan saya dengan hangat dan mempersilakan untuk duduk di berugak depan rumahnya. Tidak berselang lama, rekan-rekan peneliti dari World Resources Institute (WRI) Indonesia juga tiba di lokasi.
Kedatangan kami ke Desa Darek merupakan bagian dari penelitian Ekonomi Pangan Baru (New Food Economy) yang dilakukan oleh WRI Indonesia di 17 kabupaten/kota di Indonesia. Kabupaten Lombok Tengah menjadi salah satu wilayah penelitian untuk memahami berbagai dinamika sistem pangan lokal, termasuk tantangan yang dihadapi petani dalam menjaga keberlanjutan produksi pangan di tengah perubahan sosial dan lingkungan yang terus berlangsung.
Desa Darek dipilih sebagai salah satu lokasi penelitian karena memiliki peran penting sebagai salah satu lumbung padi di Kabupaten Lombok Tengah. Produksi padi dari wilayah ini berkontribusi terhadap pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat di daerah sekitarnya.
Dalam diskusi yang berlangsung santai namun penuh makna, Bapak Zakir menceritakan berbagai tantangan yang dihadapi para petani di Desa Darek saat ini.
Hama, Iklim, dan Air Irigasi
“Selain hama tikus, irigasi juga menjadi tantangan petani di Desa Darek,” ungkap Zakir.
Serangan hama tikus masih menjadi persoalan klasik yang terus menghantui petani. Dalam beberapa musim tanam, hama tersebut dapat menyebabkan kerusakan tanaman yang cukup signifikan dan berdampak pada menurunnya hasil panen.
Di sisi lain, perubahan iklim juga membawa tantangan baru bagi petani. Perubahan pola curah hujan dan musim tanam menyebabkan petani harus lebih adaptif dalam menentukan waktu tanam yang tepat.
“Selama ini perubahan iklim menyebabkan perubahan pola tanam di Desa Darek,” kata Zakir.
Meski demikian, para petani di Darek masih bersyukur karena keberadaan Bendungan Batujai membantu menjaga ketersediaan air irigasi untuk lahan pertanian mereka.
“Untungnya Darek mendapatkan air irigasi dengan adanya Bendungan Batujai,” tambahnya.
Ketersediaan air irigasi menjadi faktor penting dalam menjaga produktivitas pertanian, terutama ketika musim kemarau berlangsung lebih panjang akibat perubahan iklim. Dukungan infrastruktur irigasi yang memadai telah membantu petani Darek mempertahankan aktivitas budidaya padi di tengah ketidakpastian cuaca.
Ketika Generasi Muda Menjauh dari Sawah
Namun, persoalan yang saat ini semakin dirasakan oleh petani bukan hanya terkait perubahan iklim atau serangan hama. Krisis tenaga kerja di sektor pertanian menjadi tantangan baru yang tidak kalah serius.
Menurut Zakir, semakin sedikit generasi muda yang tertarik untuk bekerja di sektor pertanian.
“Anak-anak muda sudah jarang mau menjadi petani,” ujarnya.
Fenomena ini tidak hanya terjadi di Desa Darek, tetapi juga di banyak daerah pedesaan di Indonesia. Profesi petani yang identik dengan pekerjaan berat dan pendapatan yang tidak menentu membuat banyak generasi muda memilih pekerjaan lain yang dianggap lebih menjanjikan.
Selain itu, berkurangnya tenaga kerja pertanian juga dipengaruhi oleh adanya peluang kerja baru di sektor lain.
“Pekerja yang biasanya menjadi buruh tanam banyak yang bekerja ke dapur SPPG MBG, sehingga tenaga kerja untuk tanam dan panen menjadi sangat sulit,” ungkap Zakir.
Kondisi ini menyebabkan petani mengalami kesulitan dalam memperoleh tenaga kerja, terutama pada saat musim tanam dan panen yang membutuhkan banyak pekerja dalam waktu bersamaan.
Keterbatasan tenaga kerja pada akhirnya berdampak pada meningkatnya biaya produksi pertanian. Tidak sedikit petani yang harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk mendapatkan tenaga kerja, sementara hasil panen yang diperoleh belum tentu memberikan keuntungan yang sebanding.
Harapan pada Teknologi dan Peningkatan Kapasitas
Di tengah berbagai tantangan tersebut, para petani di Desa Darek tetap menunjukkan semangat untuk terus bertahan dan beradaptasi.
Zakir berharap pemerintah dapat memberikan perhatian lebih kepada petani melalui berbagai program peningkatan kapasitas dan dukungan sarana produksi pertanian.
“Kedepannya kami berharap ada pelatihan peningkatan kapasitas petani untuk budidaya, mengurangi penyakit tanaman, dan adanya bantuan peralatan untuk panen dan tanam,” harapnya.
Pelatihan mengenai teknik budidaya yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim dinilai penting untuk meningkatkan kemampuan petani dalam mengelola usaha taninya. Selain itu, pemanfaatan teknologi dan mekanisasi pertanian melalui bantuan alat tanam dan panen juga diharapkan dapat menjadi solusi atas semakin terbatasnya tenaga kerja pertanian.
Menjaga Masa Depan Pangan dari Desa Darek
Penelitian yang dilakukan WRI Indonesia di Desa Darek diharapkan dapat memberikan gambaran nyata mengenai tantangan yang dihadapi petani sebagai bagian penting dalam sistem pangan nasional. Temuan-temuan dari lapangan dapat menjadi dasar dalam merumuskan kebijakan yang lebih berpihak kepada petani dan mendukung ketahanan pangan di masa depan.
Menjelang senja, perbincangan bersama para petani di Desa Darek memberikan pelajaran berharga bahwa menjaga keberlanjutan pangan tidak hanya soal meningkatkan produksi, tetapi juga memastikan petani memiliki kemampuan beradaptasi terhadap perubahan iklim, akses terhadap teknologi, serta dukungan sumber daya manusia yang memadai.
Di balik setiap butir beras yang tersaji di meja makan, terdapat kerja keras para petani yang terus berjuang menghadapi berbagai tantangan. Harapan mereka sederhana: mendapatkan dukungan agar tetap dapat menanam, memanen, dan menjaga keberlanjutan pangan untuk generasi yang akan datang.
