Headlines

Di Tengah Kepungan Pembangunan, Petani Cabai di Tiwu Asem Berjuang Hadapi Penyakit Tanaman dan Ketidakpastian Harga

Ketika Sawah Mulai Dikepung Beton

Lombok Tengah – Matahari sore itu perlahan bergeser ke arah barat. Langit cerah mulai berubah menjadi jingga, mengiringi langkah saya bersama tim peneliti dari World Resources Institute (WRI) Indonesia menyusuri pematang sawah di Lingkungan Tiwu Asem, Kelurahan Renteng, Kecamatan Praya, Kabupaten Lombok Tengah.

Hamparan lahan pertanian yang tersisa di kawasan tersebut masih tampak hijau. Namun, di kejauhan, deretan bangunan baru mulai mendominasi pemandangan. Perubahan lanskap perlahan tetapi pasti sedang terjadi. Lahan-lahan pertanian yang selama puluhan tahun menjadi sumber penghidupan masyarakat kini mulai dikepung oleh pembangunan yang semakin masif.

Tujuan kedatangan kami sore itu adalah mengunjungi lahan pertanian milik Bapak Ahwan, seorang petani cabai yang telah bertahun-tahun menggantungkan hidup dari sektor pertanian di Lingkungan Tiwu Asem.

Kunjungan ini merupakan bagian dari penelitian Ekonomi Pangan Baru Indonesia (New Food Economy Indonesia) yang dilakukan oleh WRI Indonesia di 17 kabupaten/kota di Indonesia, termasuk Kabupaten Lombok Tengah. Penelitian tersebut bertujuan memahami dinamika sistem pangan lokal, tantangan yang dihadapi para pelaku usaha pangan, serta berbagai strategi yang dilakukan masyarakat untuk mempertahankan keberlanjutan penghidupan mereka.

Sesampainya di lokasi, kami disambut dengan ramah oleh Bapak Ahwan. Dengan penuh keterbukaan, ia mengajak kami melihat kondisi tanaman cabainya yang tumbuh di lahan yang kini dikelilingi oleh perumahan-perumahan baru.

Perubahan fungsi lahan di sekitar area pertanian menjadi salah satu tantangan yang mulai dirasakan petani setempat. Kawasan yang dahulu didominasi oleh areal persawahan perlahan berubah menjadi kawasan permukiman seiring meningkatnya kebutuhan akan tempat tinggal.

Di tengah perubahan tersebut, para petani tetap berusaha mempertahankan aktivitas budidaya mereka.

Sambil menunjuk beberapa tanaman cabai yang tampak layu, Bapak Ahwan mulai menceritakan kondisi yang dihadapinya.

Ancaman Penyakit di Tengah Cuaca Tak Menentu

“Beginilah penampakan tanaman cabai saya. Ada beberapa yang sudah layu seperti ini. Kayaknya diserang penyakit busuk batang atau layu,” ungkap Bapak Ahwan pada Rabu (10/6/2026).

Beberapa tanaman terlihat menguning, batangnya mulai membusuk, sementara sebagian lainnya tampak layu meskipun kondisi tanah masih cukup lembap. Menurut Bapak Ahwan, serangan penyakit seperti ini semakin sering terjadi dalam beberapa tahun terakhir.

Perubahan cuaca yang tidak menentu menjadi salah satu faktor yang diduga memengaruhi meningkatnya serangan penyakit tanaman. Curah hujan yang sulit diprediksi, suhu udara yang berubah-ubah, serta kelembapan lingkungan yang tinggi menciptakan kondisi yang ideal bagi perkembangan berbagai patogen penyebab penyakit tanaman.

Bagi petani cabai, penyakit layu bakteri dan busuk batang merupakan ancaman serius. Serangan penyakit dapat menyebabkan tanaman mati sebelum masa panen sehingga berdampak langsung terhadap hasil produksi dan pendapatan petani.

“Kondisi cuaca sekarang berbeda dengan dulu. Kadang hujan terus, kadang panas sekali. Penyakit tanaman juga semakin sulit dikendalikan,” katanya.

Menunggu Air, Menghadapi Ketidakpastian Harga

Tidak hanya menghadapi persoalan penyakit tanaman, petani di Tiwu Asem juga harus berhadapan dengan tantangan lain yang tidak kalah berat, yakni persoalan irigasi.

Ketersediaan air menjadi faktor penting dalam keberhasilan budidaya cabai. Namun, perubahan musim yang semakin tidak menentu membuat pengelolaan air menjadi lebih kompleks. Pada musim kemarau, petani harus berupaya mendapatkan pasokan air yang cukup untuk menjaga pertumbuhan tanaman. Sebaliknya, pada saat hujan turun dengan intensitas tinggi, risiko munculnya berbagai penyakit tanaman meningkat.

Kondisi tersebut menuntut petani untuk memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi dalam mengelola usaha taninya. Sayangnya, kemampuan tersebut tidak selalu diikuti dengan akses informasi dan pendampingan teknis yang memadai.

Selain persoalan teknis budidaya, ketidakpastian harga hasil pertanian juga menjadi sumber kekhawatiran tersendiri bagi petani.

Harga cabai yang sangat fluktuatif sering kali menyebabkan petani berada dalam posisi yang sulit. Ketika produksi melimpah, harga dapat turun drastis hingga tidak mampu menutupi biaya produksi yang telah dikeluarkan. Sebaliknya, ketika harga tinggi, tidak semua petani dapat menikmati keuntungan karena produksi menurun akibat serangan hama, penyakit, atau faktor cuaca.

“Kami sering rugi karena harga tidak menentu. Kadang saat panen banyak, harga justru turun. Kalau harga bagus, tanaman malah banyak yang terserang penyakit,” ujar Bapak Ahwan.

Ketidakstabilan harga komoditas hortikultura menjadi tantangan yang dihadapi petani di berbagai daerah di Indonesia. Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan pertanian tidak hanya berkaitan dengan produksi, tetapi juga menyangkut aspek distribusi, pemasaran, dan akses informasi pasar.

Harapan pada Penyuluh Pertanian

Dalam situasi tersebut, keberadaan penyuluh pertanian dinilai sangat penting oleh para petani.

Bapak Ahwan berharap pemerintah dapat meningkatkan intensitas pendampingan kepada petani melalui kehadiran penyuluh pertanian yang lebih aktif turun ke lapangan.

Menurutnya, penyuluh memiliki peran strategis dalam membantu petani memperoleh berbagai informasi yang dibutuhkan, baik terkait teknik budidaya, pengendalian hama dan penyakit, adaptasi terhadap perubahan iklim, maupun perkembangan harga pasar.

“Kami berharap ada penyuluh yang sering turun ke lahan untuk memberikan informasi dan tambahan pengetahuan kepada petani. Supaya pengetahuan kami meningkat, baik tentang teknis budidaya, pencegahan penyakit, maupun informasi harga,” harapnya. Pendampingan yang berkelanjutan dinilai penting agar petani mampu menerapkan praktik budidaya yang lebih efektif dan efisien. Di tengah perubahan iklim yang semakin nyata, peningkatan kapasitas petani menjadi salah satu kunci untuk menjaga keberlanjutan produksi pangan.

Membaca Masa Depan Pertanian dari Tiwu Asem

Kunjungan lapangan yang dilakukan oleh tim peneliti WRI Indonesia ini menjadi bagian dari upaya untuk memahami secara lebih mendalam berbagai tantangan yang dihadapi pelaku sistem pangan lokal.

Melalui penelitian yang dilakukan di berbagai wilayah Indonesia, termasuk Lombok Tengah, diharapkan dapat diperoleh gambaran yang lebih komprehensif mengenai kondisi petani serta berbagai faktor yang memengaruhi ketahanan sistem pangan nasional.

Kisah Bapak Ahwan menggambarkan realitas yang dihadapi banyak petani di Indonesia saat ini. Mereka tidak hanya berhadapan dengan ancaman perubahan iklim yang berdampak pada produktivitas pertanian, tetapi juga menghadapi tekanan akibat alih fungsi lahan, keterbatasan akses informasi, serta ketidakpastian harga hasil panen.

Di tengah kepungan pembangunan yang terus berlangsung, lahan pertanian di Tiwu Asem masih bertahan sebagai ruang produksi pangan bagi masyarakat. Namun, keberlangsungan sektor pertanian membutuhkan perhatian bersama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *