“Kalau sebelumnya anak ini sering tidak masuk sekolah, keluhannya karena tidak punya uang belanja,” kata Laela Zahrotin, seorang pengajar saat di temui di SDN 1 Lendang Nangka pada Rabu, 7 Januari 2026.
Namanya Namara, anak perempuan tersebut usianya di tahun ini menginjak tujuh tahun. Namara ditinggal ayahnya saat berusia empat tahun, kemudian ibunya bekerja di luar daerah. Namara memiliki dua saudara laki-laki, namun mereka juga bekerja di luar daerah sehingga Namara tinggal dan dititipkan di salah satu rumah milik sahabat Ibunya Namara. Setiap hari yang mengurus kebutuhan makan dan sekolahnya adalah sahabat ibunya tersebut di Kampung Dalem Lauk, Desa Lendang Nangka, Kecamatan Masbagik, Lombok Timur.
Namara saat ini masih kelas satu sekolah dasar, ia pertama kali didaftarkan sekolah di SDN 1 Lendang Nangka oleh teman ibunya tersebut atas permintaan ibunya. Menurut penuturan salah satunya gurunya, di awal masuk sekolah Nama sering tidak masuk sekolah dengan alasan ia tidak memiliki uang belanja sehari-hari.
Dari informasi Tim Lombok Research Center pada Oktober 2025 lalu terkait Program Beasiswa Tunas Negeri, kemudian gurunya mendaftarkan Namara dan kini ia menjadi salah satu penerima manfaat dalam program tersebut. Namara juga hadir pada saat launching Program Beasiswa Tunas Negeri di Aula Kantor Desa Lendang Nangka pada Januari 2025 lalu dan bertemu langsung dengan Ketua Umum Lembaga Koordinasi Kesejehteraan Sosial NTB, Bunda Hj. Sinta Agatha M.Iqbal.
Bantuan tunai beasiswa yang diterima Namara tidak hanya mampu membantu Namara secara finansial, setelah satu bulan mendapatkan pendampingan dan bantuan tersebut Namara menunjukkan progres yang cukup signifikan. Menurut penuturan gurunya, Namara tidak pernah lagi absen sekolah, lebih disiplin dan lebih rajin mengerjakan tugas-tugas sekolah.
“Ternyata beasiswa ini mampu memotivasi siswa kami ini semakin rajin belajar karena mampu meringankan beban finansialnya. Di sisi lain, dari pembinaan yang kami berikan semakin menyadarkan siswa kami agar lebih fokus menyelesaikan pendidikan,” kata Laela menambahkan.
Gurunya melanjutkan, anak-anak seperti Namara memang sangat membutuhkan dukungan, terlebih dengan kondisi keluarga yang tidak lengkap dan tidak didampingi orangtuanya tentu menjadikan kondisinya amat rentan. Sehingga, harus benar-benar didampingi dari aspek sosial, psikologis dan pendidikan. Bagi guru-gurunya di sekolah, kini pendidikan Namara harus menjadi prioritas, karena anak-anak seperti Namara rentan putus sekolah, mengalami kekerasan dan mendapatkan diskriminasi.
Makanya, pihak sekolah khusunya di SDN 1 Lendang Nangka sangat mendorong terciptanya sekolah ramah anak yang aman dan bebas kekerasan yang dimulai dengan menamkan rasa kebersamaan dan saling menghargai antara semua masyarakat seolah, baik antara guru dan sesama siswa.
Menurut Kepala Sekolah SDN 1 Lendang Nangka, Saepuddin, S.Pd, dengan tertanamnya nilai-nilai tersebut, anak-anak rentan seperti Namara dan yang lainnya tidak perlu merasa dalam menempuh pendidikan, karena mereka semua mendapatkan rasa aman di sekolah.
“Jadi ini yang selalu kami tekankan dan kami selalu sampaikan saat apel atau sebelum memulai pelajaran untuk selalu mengingatkan siswa-siswa kami untuk saling menghargai, terutama agar tidak melakukan perundungan khususnya terhadap siswa berkebutuhan khusus atau anak rentan lainnya,” katanya kepada Tim LRC saat ditemui di kantornya pada saat pendistribusian beasiswa.
Namara bercerita kepada kami bahwa cita-citanya kelak, ia ingin menjadi dokter, alasannya karena ia ingin membantu anak-anak lebih sehat dan membawa perubahan positif di masayarakat. Hal ini disampaikannya dengan bahasa yang sangat sederhana. Tentu saja, mimpi Namara menjadi dokter bukan hal yag mustahil untuk ia raih, selama ia mampu terus belajar, mengembangkan potensi dan fokus pada tujuannya.
Dengan dukungan stakeholder, pemerintah, sekolah dan komunitas masyarakat dalam memberikan akses pendidikan yang tidak terbatas dan inklusif bagi semua siswa, anak seperti Namara tentu akan mampu mengakses pendidikan setinggi mungkin, meskipun dengan segala keterbatasan yang ada.
Semangat Belajar Naufal: Kisah Inspiratif dari Lendang Nangka
An Naufal Rahmadi Akbar atau kerap disapa Naufal lahir di Desa Lendang Nangka, 27 November 2016. Saat ini Naufal duduk di kelas tiga sekolah dasar di SDN 1 Lendang Nangka. Dari informasi yang kami dapatkan dari gurunya, Naufal sejak dua tahun terakhir ditinggal ibunya dan tinggal dengan seorang kakaknya yang berusia 12 tahun atau kelas dua sekolah menengah.
Ayahnya menikah lagi ke kecamatan yang berbeda dengan dan tinggal cukup jauh dari tempat tinggal Naufal dan kakaknya. Ayahnya bekerja sehari-hari sebagai penjual cilok dan sekali seminggu mengunjungi Naufal dan kakaknya ke rumahnya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka, seperti uang belanja, beras, lauk-pauk dan kebutuhan lainnya.
Kehidupan yang dijalani Naufal berdua bersama kakaknya bukan hal yang mudah, di usianya yang masih sangat muda, kehadiran orantua dan keluarga masih sangat dibutuhkan dalam membentuk karakter dan pola pikirnya. Sayangnya, di usianya yang baru sembilan tahun ia dipaksa untuk hidup mandiri yang mungkin sedikit berbeda dari kondisi teman-teman sekolahnya yang lain.
Tidak seperti kebanyakan anak-anak seusianya, di mana anak-anak lain disiapkan manakan oleh orangtua, Naufal dan kakaknya harus memasak sendiri nasi dan menyiapkan lauk yang sekiranya mereka bisa buat, terkadang hanya memasak mi instan atau menggoreng telur. Di pagi hari, anak-anak yang lain disiapkan baju seragam dan alat sekolah oleh orangtua mereka, berbeda dengan Naufal, ia harus bisa bertanggung jawab atas kebutuhan sekolah, mulai mandi pagi, menyiapkan baju seragam dan buku pelajaran.
Naufal sehari-hari dikenal sebagai anak yang agak pemalu dan tidak terlalu banyak bergaul. Namun di sisi lain, ia juga memiliki sikap yang santun, patuh dan juga rajin bersekolah. Melihat semangat belajarnya yang tinggi, pihak sekolah akhirnya mengajukan Naufal sebagai calon penerima Beasiswa Tunas Negeri yang diinisasi oleh Lembaga Koordinasi Kesejahateraan Sosial (LKKS) NTB, Badan Amil Zakat (BAZNAS) NTB dan NGO Lombok Research Center (LRC)
Pada Desember 2025 lalu, setelah pengumuman penerima Program Beasiswa Tunas Negeri, Naufal menjadi salah satu dari empat puluh siswa yang menerima manfaat dalam program tersebut. Pihak sekolah pun menyambut baik hal tersebut dan langsung mengabarkan informasi tersebut kepada pihak keluarga Naufal, agar bantuan beasiswa yang diberikan dapat digunakan sebaik-baiknya untuk mendukung kebutuhan pendidikan Naufal.
“Alhamdulillah dua siswa kita lolos sebagai penerima Beasiswa Tunas Negeri, dan salah adalah satunya Naufal. Mengingat kondisi Naufal yang tidak tinggal dengan orangtunya tetapi semangat belajarnya tinggi, makanya kami ajukan pada saat pendaftaraan beasiswa Oktober lalu,” kata Baiq Laela, guru Naufal saat penyaluran beasiswa Rabu, 7 Januari 2026.
Menurut keterangan dari Baiq Laela, progress yang ditunjukkan oleh Naufal juga cukup baik setelah mendapatkan bantuan beasiswa dan pembinaan dari pihak Lombok Research Center. Naufal menjadi lebih aktif di kelas dan lebih rajin mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh gurunya. Hal ini membuat pihak sekolah semakin yakin bahwa anak-anak seperti Naufal bisa maju dan berkembang jika diberikan dukungan yang dibutuhkan.
“Beasiswa ini tidak hanya memberikan bantuan finansial, lebih dari itu ini memberikan siswa rasa didukung dan meningkatkan kepercayaan diri mereka,” jelasnya.
Pengajar di SDN 1 Lendang Nangka berharap bahwa bantuan beasiswa yang diberikan bukan hanya sekadar penyaluran dana atau alat sekolah, karena di samping itu siswa-siswa juga membutuhkan pendampingan agar mereka tidak merasa sendiri dan kehadiran masyarakat benar-benar berdampak untuk semangat hidup mereka.
Untuk itu, pihak SDN 1 Lendang Nangka berkomitmen akan tetap menyampaikan laporan perkembangan hasil belajar siswa penerima beasiswa kepada LRC setia bulannya, untuk mengetahui sejauh mana dampak atau kebermanfaatan program beasiswa yang diberikan serta memungkinkan menjalin kolaborasi strategis antara pihak sekolah dan LRC ke depannya.
“Kami berharap kerja sama kami dengan LRC dan pemerintah tidak selesai setelah program beasiswa ini berakhir, kami berharap ada kerja sama yang lain khususnya dalam meningkatkan kualitas pendidikan, khususnya bagi anak-anak rentan dan membutuhkan bantuan,” kata Baiq Laela lagi.
Harapannya, melalui Beasiswa Tunas Negeri, Naufal bisa lebih fokus belajar dan rajin bersekolah, semoga Naufal terus berprestasi dan mencapai cita-citanya. Beasiswa ini adalah awal dari kesuksesanmu. Jangan lupa selalu belajar dengan giat dan jadikan impianmu sebagai motivasi. Kamu bisa!
