“Saya Tuna Rungu”, kalimat tersebut ditulis menggunakan stiker warna kuning terang di sebuah helm milik Mardhiatun. Ia seorang mahasiswa disabilitas yang menerima beasiswa pendidikan disabilitas berprestasi di Universitas Hamzanwadi, Selong, Lombok Timur. Tekadnya yang kuat telah mengantarnya menempuh pendidikan hingga ia bisa menggakses pendidikan gratis hingga lulus kuliah di kampus ternama tersebut.
Kami bertemu Mardhiatun di rumahnya di Dusun Taman Sari, Desa Banjar Sari, Kecamatan Labuhan Haji, Lombok Timur, Rabu, 21 Januari 2026. Kami berempat duduk di sebuah saung tepat di depan rumahnya yang terasa sejuk karena di apit dua pohon mangga yang menjulang melewati atap rumah. Ia tidak sendiri karena ditemani ibunya sedari tadi, yang menunggu kedatangan kami. Sesampainya kami di sana, Ibu Triati, Asisten Program INKLUSI-Lombok Researc Center (LRC) menceritakan tujuan kedatangan kami untuk membuat sebuah tulisan inpiratif dari cerita Mardhiatun.
Tampaknya sudah mengerti dengan arah pembicaraan, tanpa diminta ibunya langsung menuturkan bahwa Mardhiatun sudah dua kali ikut tes seleksi beasiswa di Universitas Hamzanwadi, namun tes yang pertama ia gagal. Setahun kemudian, Mardhiatun mencoba lagi dan lolos di tahun 2025. Keinginannya yang besar untuk bersekolah telah mendorong Marduatun untuk belajar lebih giat lagi dan mengikuti tes seleksi dengan serius.
Ia lolos dengan mengalahkan empat peserta disabilitas lainnya, karena program tersebut memang dikhususkan untuk calon mahasiswa disabilitas yang memiliki semangat tinggi untuk melanjutkan pendidikan. Mardhiatun saat ini masuk di program studi Pendidikan Luar Biasa (PLB) dan mengikuti perkuliahan secara regular dengan teman-temannya yang lain.
Mardhiatun mengikuti perkuliahan dengan serius, setiap hari ia berangkat sendiri menggunakan motor yang dibelikan ibunya dari hari Senin sampai Jumat, sementara hari Sabtu dan Minggu biasanya akan digunakan Mardhiatun untuk mengikuti kegiatan ekstra di kampus bersama teman-temannya yang lain.
Dari pihak kampus, ibunya juga ditanyakan terkait komitmennya, apakah ia bersedia mendukung Mardhiatun mengikuti perkuliahan secara intens. Hal ini penting agar Mardhiatun memiliki kepercayaan diri dan semangat. Di sisi lain, karena sang ibu adalah satu-satunya orangtua yang kini tinggal dengan Mardhiatun, akan sangat berguna dalam mengembangkan keterampilan serta membantu manajemen waktu dengan baik.
“Saya juga ditanya sama dosennya apakah bersedia mendukung Mardhiatun untuk kuliah. Saya bilang, saya selalu dukung kalau Mardhiatun senang, tetapi kalau untuk sekadar uang bensin ke kampus saya mampu kasih. Tetapi kalau untuk biaya semesternya itu saya jujur tidak mampu,” ungkapnya.
Mardhiatun sebelumnya memang pernah sekolah di salah satu sekolah swasta, Sekolah Luar Biasa Muhammadiyah Kelayu, Lombok Timur. Dari sekolah dasar hingga SMA, Mardhiatun bersekolah di sana, sehingga ia memiliki keterampilan dasar membaca, menulis, berhitung, keterampilan menjahit, dan ilmu pengetahuan lainnya.
Ibunya juga bercerita bahwa saat masih SMA, Mardhiatun sering diikutkan dalam kompetisi menjahit dari pihak sekolahnya, bahkan hingga tingkat provinsi. Mardhiatun memiliki keterampilan dalam menjahit sejak kecil, ia sering memperbaiki sendiri bajunya yang bolong atau membuat sendiri baju boneka. Kemudian saat masuk sekolah, keterampilan tersebut difasilitasi sehingga ia menjadi lebih mengembangkan teknik menjahit.
“Banyak pialanya, sering juara satu lomba menjahit, dulu juga pernah dikirim dari sekolahnya sampai ke Mataram,” katanya ibunya bercerita.
Untuk memfasilitasi keterampilan anaknya tersebut, ibunya juga membelikan perangkat mesin jahit, lengkap dengan bahan-bahan seperi kain, benang, jarum dan manik-manik. Ibunya bertujuan agar Mardhiatun memiliki kesibukan setelah lulus sekolah, terlebih dia sudah memiliki kemampuan dasar menjahit yang cukup mumpuni.
Mardhiatun juga di tahun 2025 mengikuti program menjahit bagi disabilitas yang diselenggarakan oleh Pemerintah Desa Banjar Sari melalui kolaborasi dengan Program INKLUSI-Yayasan BaKTI dan Lombok Research Center (LRC). Selama dua minggu Mardhiatun mengikuti pelatih secara intens bersama disabilitas lainnya. Melalui program tersebut, Mardhiatun semakin mahir mengembangkan bakat menjahitnya, bahkan ia sudah bisa membuat berbagai model baju termasuk seragam dan perlengkapan rumah tangga, seperti kelambu, keset, taplak meja dan lainnya.
Awalnya, ibunya hanya ingin Mardhiatun bekerja di rumah, karena tak yakin bahwa anaknya mampu mengimbangi teman-temannya yang lain. Terlebih, keterbatasan ekonomi juga membuat ibunya merasa pesimis untuk bisa menyekolahkan anaknya ke jenjang yang lebih tinggi. Akan tetapi melihat semangat Mardhiatun yang mau belajar dan berusaha untuk lolos tes tersebut, akhirnya ibunya mengizinkannya untuk melanjutkan kuliah. Dengan satu syarat, Mardhiatun juga harus berjanji kepada ibunya untuk serius kuliah hingga lulus dan belajar dengan bersungguh-sungguh.
Mardhiatun pun menujukkan keseriusannya, dari cerita ibunya indeks prestasi Mardhiatun yang diinformasikan oleh pihak kampus selalu memuaskan. Ini membuktikan bahwa Mardhiatun benar-benar serius untuk meraih cita-citanya, menjadi guru sekolah luar biasa. Dari cerita dan semangatnya telah menunjukkan bahwa keterbatasan bukanlah sebuah penghalang untuk berkembang, justru itu menjadi motivasi paling besar untuk meraih cita-cita setinggi mungkin.
Mardhiatun Penerima Beasiswa Disabilitas Berprestasi Universitas Hamzanwadi
