LRC Dorong Pertanian Berkelanjutan dengan Pemanfaatan Biostimulan dan Biospestisida Organik di Desa Labuhan Haji

 
Tim Lombok Research Center (LRC) turun ke Desa Labuhan Haji untuk asesmen dan persiapan pelaksanaan proyek Pemanfataan Biostimulan dari Rumput Laut untuk Pertanian Berkelanjutan di Desa Labuhan Haji, Lombok Timur, Kamis, 5 Februari 2026. Proyek ini akan didanai oleh Penabulu dan akan dilaksaanakan oleh Lombok Research Center selama enam bulan (Februari-Juli 2026).
 
Desa Labuhan Haji, Pahminuddin, SH., menyambut baik kedatangan tim LRC yang selama ini telah bermitra sejak tahun 2015. Menurut Pahminuddin, proyek tersebut akan membantu meningkatkan hasil panen petani, khususnya pada tanaman cabai diprediksi mulai penanaman pada Maret mendatang.
 
Ia menuturkan Desa Labuhan memiliki potensi yang besar, karena merupakan desa pesisir memiliki karakter ekonomi ganda, yaitu pertanian lahan darat dan perikanan/kelautan. Potensi pertanian didukung luasnya lahan sawah sebesar 217 hektar, lahan kering seluas 145 hektar dan perkebunan 12 hektar. Sehingga, sebagian besar penduduk mengembangkan pertanian dengan jenis tanama padi, hortikulturan dan palawaija.
 
Di samping itu, Desa Labuhan Haji langsung berbatasan dengan sejumlah pesisir pantai seperti: Pantai Suryawangi, Pantai Sepolong, Pantai Sunrise Land, Pantai Rambang 1, Pantai Rambang 2 dan Pantai Kuwangwai, dengan panjang pantai seluas 2,5 kilometer. Begitu juga dengan hasil rumput laut dari jenis sargassum, bulu kambing dan kotoni bisa mencapai 5-10 ton per tahunnya.
 
“Kalau dilihat kita sebenarnya punya potensi ekonomi yang sangat besar, tinggal bagaimana kita arahkan masyarakat dalam mengolahnya,” jelasnya.
 
Meskipun memiliki potensi yang besar, tak ayal sejumlah masalah pertanian pun sering dialami petani. Dari hasil penelitian Lombok research Center di tahun 2025 pada Proyek Pemanfataan Sargassum Menjadi Biostimulan Pertanian di Labuhan Haji mengindikasikan ada penurunan jumlah panen petani pada komoditas cabai. Dari asesmen 100 petani yang diberikan pelatihan dalam proyek tersebut, ditemukan penurunan kuantitas panen cabai sebanyak 20-30 persen selama dua tahun terakhir, dengan rata-rata hasil panen 5-6 ton menyusut menjadi 3,8-4 ton per hektar.
 
Menurunnya hasil panen tersebut diindikasikan karena penurunan kualitas tanah akibat penggunaan pupuk kimia berlebih, cuaca ekstrem dan pola tanam yang tidak teratur. Untuk itu, LRC ingin membawa solusi untuk petani di Desa Labuhan Haji dengan mengembangkan biostimulan dan biospestisida organik dari bahan rumput laut Sargassum melalui proyek Pemanfataan Biostimulan dari Rumput Laut untuk Pertanian Berkelanjutan di Desa Labuhan Haji.
 
Proyek ini nantinya akan membawa solusi ganda bagi masyarakat setempat, karena memanfaatkan bahan dari rumput laut, secara langsung akan mengurangi sampah di pantai. Kemudian, produk yang dihasilkan dapat digunakan untuk meningkatkan hasil dan kualitas pertanian.
 
Baiq Titis Yulianty, Koordinator Program LRC juga menginformasikan kepada pemerintah desa, bahwa LRC menargetkan sebanyak 75 petani di Desa Labuhan Haji akan diberikan pelatihan pembuatan biostimulan dan biopestisida. Tidak hanya itu saja, sejumlah petani tersebut juga akan diberikan bantuan bibit cabai dan alat semprot pertanian (sprayer).
 
Ia berharap, proyek ini tidak hanya sekadar memberdayakan petani secara individu, namun berdampak lebih luas, petani dapat melestarikan budaya pertanian berkelanjutan, melestarikan lingkungan sekaligus sebagai tulang punggung ketahanan pangan di desa.
 
“Kami harap, setelah proyek ini berjalan, praktik-praktik baik yang kami tinggalkan dapat terus dilanjutkan oleh petani setempat, bahkan menjadi contoh bagi desa-desa lainnya di Lombok Timur,” jelasnya.
 
Proyek ini direncanakan berjalan mulai pertengahan Februari 2026 dengan menggunakan pendekatan inklusif melalui pelibatan petani, nelayan, dan secara khusus memberdayakan perempuan dan anak muda. Tujuannya adalah untuk mendorong perubahan nyata pada cara petani Desa Labuhan Haji mengelola produksi pertanian dari sistem yang bergantung pada input kimia eksternal menuju sistem pertanian yang lebih mandiri, sehat, dan berkelanjutan dengan memanfaatkan sumber daya lokal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *