Peneliti Indonesia Timur Rumuskan Proposal Riset Kolaboratif di Mataram

Mataram, NTB — Puluhan peneliti dari berbagai institusi di Kawasan Indonesia Timur (KTI) mengikuti Workshop Collaborative Research Proposal Berbasis Isu dan Tantangan Wilayah di Nusa Tenggara Barat yang digelar pada 11–12 Maret 2026 di Senaru Meeting Room, Prime Park Hotel, Jalan Udayana No.16, Monjok Baru, Kecamatan Selaparang, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat.
 
Kegiatan yang difasilitasi Yayasan BaKTI bersama Program KONEKSI (Knowledge Partnership Platform Australia–Indonesia) ini diikuti sekitar 30–35 peserta dari perguruan tinggi, Bappeda, BRIDA, lembaga penelitian daerah, organisasi masyarakat sipil, hingga peneliti dari kelompok disabilitas.
 
Workshop ini merupakan bagian dari program Pengembangan Jaringan Peneliti Kawasan Timur Indonesia yang bertujuan memperkuat kolaborasi riset di Indonesia Timur agar lebih relevan dengan kebutuhan pembangunan daerah.
 
Penguatan Kapasitas Peneliti
Kegiatan dibuka dengan sambutan pengantar dari Sumarni, Program Manajer Program KONEKSI BaKTI. Dalam pengantarnya, ia menekankan pentingnya memperkuat kolaborasi peneliti di Indonesia Timur agar riset yang dihasilkan tidak hanya bersifat akademik, tetapi juga mampu menjawab kebutuhan kebijakan pembangunan.
 
“Melalui workshop ini kami ingin mendorong lahirnya proposal penelitian yang kolaboratif, berbasis bukti, dan inklusif sehingga dapat berkontribusi pada kebijakan pembangunan daerah,” ujar Sumarni.
 
Setelah sambutan pengantar, jalannya kegiatan kemudian dipandu oleh Muhammad Bai’ul Hak sebagai fasilitator yang mendampingi proses workshop selama dua hari.
 
Materi pertama disampaikan oleh Dr. Moh. Taqiuddin, M.Si dengan topik “Strategi Penyusunan Proposal Kolaboratif yang Kompetitif”. Dalam paparannya, ia menjelaskan pentingnya memahami kerangka acuan donor, memposisikan isu penelitian secara tepat, serta membangun konsorsium riset lintas lembaga.
 
Materi berikutnya disampaikan oleh dr. Wahyu Sulistya Affarah, MPH, Sp.KL(K) mengenai “Integrasi GEDSI dalam Desain Riset” yang menekankan pentingnya memasukkan perspektif Gender Equality, Disability, and Social Inclusion (GEDSI) secara nyata dalam metodologi penelitian.
 
Sesi penguatan konsep ditutup oleh Salman Samir, SE, M.Sc yang memaparkan “Strategi Knowledge-to-Policy dan Komunikasi Hasil Riset”, termasuk bagaimana hasil penelitian dapat diterjemahkan menjadi rekomendasi kebijakan melalui policy brief dan strategi komunikasi yang efektif.
 
Diskusi dan Klinik Proposal
Setelah sesi pemaparan dan diskusi, fasilitator kemudian membagi peserta ke dalam empat kelompok diskusi, masing-masing terdiri dari sekitar delapan peserta dengan latar belakang institusi dan disiplin ilmu yang beragam. Pembagian ini dimaksudkan untuk mendorong kolaborasi lintas lembaga dalam merumuskan gagasan penelitian berbasis isu strategis daerah.
 
Melalui sesi co-creation, setiap kelompok mengidentifikasi persoalan utama, kesenjangan riset, serta merumuskan pertanyaan penelitian yang kemudian dikembangkan menjadi kerangka awal proposal.
 
Memasuki hari kedua, kegiatan difokuskan pada klinik proposal yang lebih intensif. Peserta menyusun latar belakang penelitian, metodologi, rencana kerja, hingga strategi dampak kebijakan dari proposal yang dirancang.
 
Dalam proses tersebut, peserta juga diminta membuat akun pada sistem Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sebagai langkah awal untuk pengajuan proposal penelitian. Empat kelompok riset yang terbentuk selama workshop akan mendapatkan coaching clinic lanjutan guna mematangkan proposal agar dapat diajukan pada skema pendanaan riset BRIN.
 
Melalui kegiatan ini, BaKTI dan KONEKSI berharap lahir proposal riset kolaboratif yang tidak hanya kuat secara akademik, tetapi juga mampu mendorong pembangunan berbasis pengetahuan di kawasan Indonesia Timur.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *