“Dulu saya hanya punya satu mesin jahit, sekarang alhamdulillah sudah punya empat buah,” tutur Ibu Laila Asmaroni saat kami berkunjung ke kios menjahitnya pada Kamis, 22 Januari 2025.
Kios menjahit yang belum memiliki nama tersebut baru ditempatinya sejak enam tahun terakhir. Kios tersebut tampak cukup luas karena memuat empat mesin jahit yang diletakkan saling berhadapan. Kemudian, di samping kanan ruangan terdapat dua buah etalase kaca, sepertinya tempat menaruh produk jahit yang sudah selesai dikerjakan serta bahan-bahan menjahit lainnya.
Di depan kios juga dilengkapi dengan patung manekin yang digunakan untuk memajang pakaian berbentuk gaun. Sementara di sisi lain ruangan terdapat benang yang berjejer secara rapi, benang-benang tersebut disusun menurut warnanya. Bu Oni, sapaan akrabnya juga melengkapi kiosnya tersebut dengan sebuah lemari plastic dengan ukuran cukup besar untuk menaruh kain-kain yang belum diolah, terdapat banyak sekali jenis kain di sana.
Sebelum Covid-19, Ibu Oni bekerja sehari-hari sebagai penjahit di rumahnya, sekitar tahun 2014. Ia memiliki sebuah mesin jahit yang dibeli dari hasil tabungannya. Sebelum menikah ke Desa Banjar Sari, Kecamatan Labuhan Haji, Kabupaten Lombok Timur, ia memang ketertarikan pada bidang tersebut. Saat masih lajang, ia sempat mengikuti 3-4 kali kursus di balai pelatihan, dua kali di Lombok Tengah, di tempat tinggalnya dan satu kali di Lombok Timur. Masing-masing kursus diikuti secara beruntun, dari tahun 2009,2010 dan 2011.
“Kalau sekarang udah gak sempat ikut-ikut kursus offline seperti itu, sekarang lebih sering liat tutorial di Youtube saja,” katanya.
Saat baru mulai menjahit di tahun 2014, karena masih banyak yang belum mengenalnya, ia bekerja sama dengan sejumlah kelompok menjahit di Desa Banjar Sari yang sudah memiliki nama besar. Ketika kelompok menjahit tersebut mendapatkan order dalam jumlah besar, ‘penjahit kecil’ seperti Ibu Oni akan diminta untuk menyelesaikan sejumlah pesanan. Mulai dari sana lah banyak yang mengenal jasa menjahit yang ia sediakan.
“Awalnya iklannya hanya dari mulut ke mulut, saya kan kader, nah saya promosikan saat ada kegiatan-kegiatan di desa sama ibu-ibu kader yang lain,” ungkapnya.
Pindah ke Lokasi yang Strategis
Dengan meningkatnya pesanan dari masyarakat, akhirnya ia memutuskan untuk memindah lokasi kiosnya ke tempat yang lebih strategis yang mudah dijangkau oleh pelanggan. Ia menggunakan tabungan yang ia kumpulkan selama bertahun-tahun dan dibantu tambahan dana dari sang suami, ia kemudian berhasil membangun sebuah kios yang tidak terlalu jauh dari rumahnya. Selain itu, ia juga membeli tambahan mesin jahit agar pekerjaannya lebih mudah terselesaikan.
Sejak pindah ke lokasinya saat ini, pesanan jahitan menjadi lebih banyak karena tempatnya persis di pinggir jalan, lokasinya sangat mudah ditemukan. Saat banyak pesanan yang masuk, ia akan dibantu oleh suami dan dua orang kerabatnya. Namun jika pesanan tidak terlalu ramai ia akan bekerja sendirian di kios tersebut, ditemani anak-anaknya yang masih duduk di sekolah dasar. Ia menyukai pekerjaannya tersebut karena selain bisa menambah penghasilan, ia bisa bekerja sambil mengurus anak-anaknya.
Bermitra dengan Sekolah-sekolah
Ia menuturkan banyak yang puas dengan hasil jahitannya yang rapi dan sesuai dengan keinginan pelanggan. Bahkan, ketika ada komplain dari pelanggan, ia akan memberikan kompensasi dengan memperbarui hasil jahitannya hingga sesuai dengan keinginan pelanggan.
Hingga saat ini ia memiliki sejumlah pelanggan tetap dari masyarakat setempat hingga berasal dari luar desa. Bahkan di antaranya, terdapat dua sekolah di Kecamatan Labuhan Haji yang sudah bermitra dengannya sejak dua tahun terakhir.
“Yang order setiap tahun biasanya dari PASKIB SMP 1 Labuhan Haji, mereka biasanya pesan seragam, karena kan pasti setiap tahun model seragamnya berbeda,” ungkapnya.
Pernah Dimarahi Pelanggan
Meskipun sudah berhasil mengembangkan usahanya, dari dulu hanya punya satu mesin jahit hingga sekarang punya empat mesin jahit, tantangan dalam mengembangkan bisnis selalu ada. Tantangan yang paling dirasakan, selain meningkatnya harga bahan-bahan adalah keterbatasan kemampuannya dalam menerima pesanan. Terlebih ketika pesanan meningkat dengan jumlah pekerja yang terbatas, sering kali ia menerima komplain dari pelanggannya karena jahitan baju yang tak kunjung selesai.
Bahkan, beberapa bulan lalu ia pernah dimarahi oleh salah satu konsumennya, karena waktu itu kain yang akan dibuat menjadi seragam belum sempat ia kerjakan karena menumpukknya pesanan dari pihak sekolah.
“Pernah ada yang datang marah-marah karena bajunya belum selesai saya kerjakan, jadi dia datang ngambil kainnya dan mau dioper ke penjahit yang lain. Tapi, itu hal biasa yang sering kita temui sebagai penjahit,” katanya sambil tertawa mengingat kejadian itu.
Ketika ada borongan atau pesanan besar dari pihak sekolah, terkadang ia bersama suami dan karyawannya harus rela begadang hingga dini hari. Sebab, mereka harus menyelesaikan pesanan tepat waktu dengan hasil yang diinginkan konsumen. Pernah suatu waktu ia bersama suami selama tiga hari berturut-turut harus bekerja sampai dini hari untuk menyelesaikan pesanan seragam sekolah yang berjumlah puluhan pasang.
“Mau tidak mau kita kerjakan keroyokan sampai subuh, itu kita ngembut gak istirahat, alhamdulillah tiga hari selesai kami kerjakan,” ceritanya lagi.
Meningkatkan Pencatatan Keuangan Sejak Dibina LRC
Selama beberapa tahun mengerjakan usaha menjahitnya, Bu Oni mengaku tidak pernah melakukan pencatatan keuangan. Ia hanya memiliki sebuah buku untuk menulis ukuran baju pelanggannya agar tidak lupa. Menurutnya mencatat keuangan tidak begitu penting karena untung atau rugi bisa dikira-dikira saja. Paling yang dicatat hanya berapa jumlah pengeluaran untuk membeli bahan menjahit seperti kain, benang, payet dan sebagainya.
Lambat laun, ia pun menyadari bahwa penghasilan yang didapatkan tidak terukur dengan baik. Di samping itu, ia juga tidak melakukan pembagian antara uang pribadi denga modal usaha, sehingga membuatnya kesulitan menghitung berapa keuntungan pasti yang didapatkan. Sejak mendapatkan pelatihan UMKM untuk pengembagan usaha dan pembukuan yang dilaksanakan oleh Lombok Research Center tahun 2024-2025, Bu Oni mulai belajar melakukan pencatatan keuangan sederhana. Ia menunjukkan kepada kami catatan keuangan sederhana yang sudah dilakukan sejak beberapa bulan terakhir.
“Tapi gak selengkap yang waktu diajarkan di pelatihan sih, yang ditulis cuma uang keluar dan uang masuk, kemudian sisanya berapa itu aja sih,” celetuknya.
Meskipun dengan pencatatan sederhana, Bu Oni lebih terbantu setelah melakukan pencatatan keuangan, karena pengelolaan keuangan menjadi lebih baik dan ia bisa membuat perencanaan keuangan yang lebih teratur. Dengan begitu, ia bisa mengetahui jumlah uang yang dikelola setiap bulannya, sehingga ia tahu kapan harus memperbarui stok barang serta menentukan harga produk yang dihasilkan.
Selain pelatihan pembukuan keuangan, Bu Oni sendiri ingin belajar lebih intens terkait pemasaran digital, khususnya bagaimana melakukan penjualan melalui platform digital seperti Shopee dan Tiktok Shop. Di samping itu, ia juga ingin belajar bagaimana membuat brosur, iklan dan desain kemasan produk agar lebih menarik agar meningkatkan ketertarikan pelanggan.
Sebelum berpamitan, ia bercerita kepada kami kalau sebenarnya ia sudah memiliki nama brand sendiri dan sudah dikenal di facebook, namanya “Oni Taylor”. Sayangnya, ia tidak terlalu suka dengan nama tersebut karena menurutnya terlalu biasa-biasa saja. Ia meminta kami untuk dibuatkan ide nama brand yang bisa menggambarkan usaha menjahitnya akan tetapi unik dan mudah diingat. Kira-kira Semeton LRC ide untuk brand usaha menjahir Bu Oni? Kirimkan kepada kami, ya!
Oni Taylor, Kisah Sukses UMKM Binaan Lombok Research Center
